Purwokerto – Ketua Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (Pusat KPMAK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt., MBA., M.Kes., menjadi pembicara dalam Special Session 1 pada The 9th Biennial Scientific Meeting Indonesian Health Economics Association (InaHEA) 2026 yang diselenggarakan pada 23–25 Juli 2026 di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Mengusung tema “From Evidence to Action: Digital-Driven Efficiency for Resilient and Sustainable Health System”, forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, serta praktisi untuk mendiskusikan berbagai isu strategis di bidang ekonomi kesehatan dan sistem kesehatan Indonesia.
Pada sesi bertajuk “Burden of Dengue and Adoption of Health Technologies for Dengue Prevention and Elimination in Indonesia”, Dr. Diah Ayu menyampaikan materi “Beban Penyakit Dengue di Indonesia: Implikasi bagi Sistem Kesehatan dan Kebijakan.” Sesi yang didukung oleh Takeda Indonesia tersebut membahas bagaimana bukti ilmiah mengenai beban penyakit dapat menjadi landasan dalam pengambilan keputusan terkait teknologi kesehatan dan strategi menuju target Zero Dengue Deaths 2030.
Dalam paparannya, Dr. Diah Ayu mempresentasikan hasil studi beban ekonomi dengue di Indonesia yang dilakukan oleh Pusat KPMAK FK-KMK UGM. Penelitian tersebut mengestimasi bahwa dengue menimbulkan beban ekonomi sekitar Rp8,7 triliun per tahun, dengan sekitar 74,2% beban ditanggung oleh pasien yang tercakup dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Temuan ini menunjukkan bahwa dengue tidak hanya menjadi tantangan kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan tekanan yang besar terhadap pembiayaan sistem kesehatan nasional.
Selain menghitung beban ekonomi, studi tersebut juga menunjukkan bahwa kasus dengue berat lebih banyak ditemukan pada kelompok masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah. Di sisi lain, meskipun telah memiliki perlindungan JKN, banyak pasien masih harus mengeluarkan biaya pribadi (out-of-pocket) yang cukup besar untuk biaya non-medis maupun kebutuhan lainnya selama menjalani pengobatan. Penelitian ini juga mengungkap bahwa semakin berat derajat penyakit, semakin besar pula penurunan kualitas hidup pasien, bahkan pada kasus Dengue Shock Syndrome (DSS) nilai kualitas hidup yang diukur menggunakan health-related quality of life (HRQoL) berada di bawah nol, menggambarkan kondisi yang sangat berat.
Berdasarkan temuan tersebut, Dr. Diah Ayu menekankan pentingnya pendekatan yang komprehensif dalam pengendalian dengue melalui empat pilar utama, yaitu penguatan upaya pencegahan, peningkatan kualitas tata laksana klinis, perlindungan finansial bagi masyarakat, serta penguatan aspek ekuitas agar kelompok berisiko tinggi memperoleh akses layanan kesehatan yang lebih baik. Ia juga menegaskan bahwa investasi dalam pencegahan dan penguatan layanan kesehatan primer perlu ditingkatkan sebagai pelengkap investasi di rumah sakit untuk mencapai sistem kesehatan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Melalui partisipasi dalam forum ilmiah nasional ini, Pusat KPMAK FK-KMK UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan bukti ilmiah yang mendukung penyusunan kebijakan kesehatan berbasis bukti (evidence-informed policy). Hasil penelitian yang dipresentasikan diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam merancang strategi pengendalian dengue yang lebih efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan di Indonesia.