Singapura – Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (Pusat KPMAK), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), turut berpartisipasi dalam 9th Asia Dengue Summit (ADS) 2026 yang diselenggarakan di Orchard Hotel, Singapura, pada 14 – 17 Juni 2026. Forum ilmiah tahunan ini mempertemukan peneliti, klinisi, pembuat kebijakan, organisasi internasional, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mendiskusikan perkembangan terkini terkait epidemiologi, pencegahan, diagnosis, tata laksana, vaksin, terapi, hingga inovasi kebijakan dalam pengendalian dengue. Tahun ini, Asia Dengue Summit mengusung tema “Science for Solutions”.
Partisipasi Pusat KPMAK dalam forum internasional ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kontribusi akademik Indonesia dalam menghasilkan bukti ilmiah yang dapat mendukung pengambilan kebijakan pengendalian dengue. Selama kegiatan, peserta mengikuti berbagai sesi ilmiah yang membahas perkembangan terbaru mengenai vaksin dengue, implementasi real-world evidence, pengendalian vektor berbasis Wolbachia, inovasi terapi, hingga strategi pembiayaan dan kebijakan kesehatan untuk pengendalian dengue yang berkelanjutan.
Selain mengikuti berbagai simposium ilmiah, Pusat KPMAK juga berkontribusi melalui presentasi poster yang disampaikan oleh salah satu penelitinya, Rizki Tsalatshita Khair Mahardya, pada sesi poster yang menampilkan hasil-hasil penelitian terbaru dari berbagai negara.
Poster yang dipresentasikan berjudul “The Economic Burden of Dengue in Indonesia: Evidence on Disease Severity and Socioeconomic Inequality.” Studi tersebut bertujuan mengestimasi beban ekonomi dengue di Indonesia dari perspektif masyarakat (societal perspective) serta menganalisis variasi beban berdasarkan tingkat keparahan penyakit dan status sosial ekonomi pasien. Penelitian menggunakan pendekatan cost-of-illness dengan mengombinasikan berbagai sumber data, termasuk data BPJS Kesehatan, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), wawancara tenaga kesehatan, serta survei terhadap 553 pasien dengue di empat lokasi penelitian di Indonesia, yaitu Bogor, Denpasar, Berau, dan Bima.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengue masih menimbulkan beban ekonomi yang sangat besar di Indonesia, dengan estimasi mencapai sekitar USD 550,9 juta atau sekitar Rp8,7 triliun per tahun. Hampir tiga perempat dari total beban ekonomi tersebut berasal dari pasien yang tercakup dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini juga menemukan bahwa pasien dari kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah cenderung mengalami dengue berat lebih sering serta tetap menghadapi pengeluaran pribadi (out-of-pocket expenditure) yang signifikan meskipun telah memiliki perlindungan asuransi kesehatan. Temuan tersebut menegaskan pentingnya penguatan upaya pencegahan dengue, peningkatan perlindungan finansial, serta penerapan pendekatan yang lebih berorientasi pada pemerataan (equity) dalam kebijakan pengendalian dengue.
Studi yang menjadi dasar penyusunan poster ini dilaksanakan melalui kolaborasi berbagai peneliti di Pusat KPMAK FK-KMK UGM dan didukung oleh Takeda Innovative Medicine, yang berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan penelitian bersama para responden, fasilitas kesehatan, dan penyedia data yang terlibat.
Keikutsertaan Pusat KPMAK dalam 9th Asia Dengue Summit 2026 diharapkan semakin memperkuat peran UGM dalam menghasilkan penelitian berkualitas yang mendukung kebijakan berbasis bukti (evidence-informed policy), sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional untuk mempercepat upaya pengendalian dengue di Indonesia dan kawasan Asia.
#BurdenofDisease #SDGs #Dengue #inequity